Phobia KTP (fiksi 4 tahun lalu)


Memperjelas sesuatu yang tidak jelas terkadang membuat penderitaan orang banyak, sesuatu yang rumit memang harus dinikmati. Adapun pelajaran yang bisa diambil, pasti akan datang paling akhir. Semua itu diawali dari sini.....

Ketika rintik hujan mulai jatuh di atap berkaca, benda hitam di pergelangan tangan Nindya menunjukan waktu pukul 06:05 WIB, rambut terurai dengan kemeja putih dan celana jeans panjang serta sepatu high heels putih cantik yang begitu nyaring terdengar ketika menapakkan ujungnya di lantai. Ketika Nindya mulai menuruni satu per satu tangga di rumahnya, terdengar suara penggorengan dan harumnya nasi goreng, seakan membuat harmoni cinta yang indah, siapa lagi yang bisa membuat semua itu kalau bukan Arinda. Arinda merupakan sahabat Nindya yang cantik jelita, pintar memasak, dan selalu membiarkan senyum yang indah menjadi perhatian banyak orang, teman-teman di kantor lebih mengenalnya dengan julukan malaikat surga. Tiba-tiba terdengar suara yang sudah dipastikan bukan suara penggorengan, kali ini berbeda. “Bbrrrukkk!!!!” Sebuah rak berukuran mini beserta isinya terkapar, kertas-kertas hasil coretan tinta saat bekerja berserakan di lantai. Sepertinya memang ada seseorang yang menjatuhkannya. Hal yang sama sekali tidak asing di rumah Nindya, itu semua pasti ulah Kartini, sahabat Nindya yang selalu ceroboh dan terburu-buru. “Maaf teman-teman, tadi aku mau lewat tapi rak bukunya ngga mau minggir!” Nindya dan Arinda hanya diam dan melanjutkan kegiatannya sendiri. Seseorang berkacamata, berjilbab, dan terlihat sangat anggun membantu Kartini membereskan rak mini dan kertas-kertas yang berserakan tadi. Sambil tersenyum Kartini berkata“Terimakasih banyak Putri” Seorang wanita berkacamata tadi menjawab “Sama-sama”. Yah, namanya Putri, wanita paling religius di rumah Nindya.
Nindya, Arinda, Kartini, dan Putri adalah sahabat semenjak SMA. Mereka bersekolah di SMA yang sama, saat kuliahpun mereka memutuskan untuk mendaftar kuliah di universitas yang sama. Meskipun mereka mendaftar di jurusan yang berbeda-beda. Sekarang mereka telah bekerja di kantor yang sama, yaitu YB Entertainment. Nindya sebagai model sekaligus penyanyi solo, Arinda sebagai manager team kreatif, Kartini sebagai sekertaris desainer yang mana desainer tersebut adalah Putri. Mereka berempat tinggal di rumah yang sama, rumah Nindya. Karena kebetulan rumah Nindya dekat dengan kantor mereka bekerja. Saat ini mereka berempat sudah mnginjak usia 28 tahun, tetapi mereka belum memiliki pasangan hidup. Mereka berempat memang selalu pilih-pilih ketika berhubungan dengan pasangan hidup. Mereka memiliki keinginan yang sama, yaitu menikah dengan seorang wirausaha yang tampan, sukses dan baik hati serta beriman dan ramah. Hingga saat ini belum ada pria yang sesuai dengan kriteria tersebut.
Suatu  ketika ada seorang wirausaha sukses di bidang entertainment, tampan dan sangat terkenal dengan kebaikannya. Dia berencana melakukan kerjasama dengan YB Entertainment untuk membuat sebuah girl band. Ternyata Nindya adalah salah satu kandidat personil girl band tersebut. Wirausahawan tersebut ingin membentuk team khusus yang menangani girl band buatannya itu. Dan terpilihlah 6 anggota team khusus, yaitu Arinda, Clara, Hana, Rian, Putri beserta sekertarisnya Kartini. Mereka berenamlah yang akan menangani segala persiapan pembentukan girl band baru.
Wirausaha yang bernama Alka mulai sering bertemu dengan Nindya, Arinda, Kartini, dan Putri. Alka memang pria yang sangat ramah dan baik. Tidak heran jika setiap wanita mengidolakannya. Begitu pula Nindya, Arinda, Kartini, dan Putri. Mereka sangat senang bekerjasama dengan Alka. Tanpa sadar mereka berempatpun mulai menyukai Alka, persaingan tidak terhindarkan. Mereka berempat selalu berusaha menunjukan yang terbaik didepan Alka. Akibat persaingan mereka suasana rumah Nindya yang biasanya penuh kebahagiaan dan keceriaan kini berubah menjadi sangat suram. Bahkan seekor semutpun tidak berani untuk menunjukan sungutnya. Tidak ada percakapan yang terdengar di rumah Nindya selain suara hiasan kerang yang tertiup angin. Gemrincing memecah keheningan. Bahkan Nindya sendiri sang pemilik rumah jarang sekali berada dirumahnya. Nindya menghabiskan waktunya untuk berlatih di kantor YB Entertainment bersama personil girl bandnya. Sedangkan Putri sibuk dengan desainnya dan kartini pergi, katanya untuk membeli keperluan desain. Tapi apa itu benar atau tidak, tidak ada yang mengetahuinya. Atau kartini hanya igin menghindari percakapan dengan saingannya Putri dan Arinda. Arinda sendiri saat ini tengah tertidur pulas di kamarnya karna hari ini hari libur, dan akhir pekan kemarin dia sangat disibukan dengan pekerjaannya, mungkin Arinda lelah.
Hari berikutnya Putri merasa sangat marah, karena kartini tidak bisa profesional. Mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Pekerjaan kartini tidak ada yang benar sedikitpun, dan Putri merasa sangat marah. Akibat dari kesalahan Kartini semua pekerjaan Putri sia-sia. Karena desain untuk girl band berantakan belum jadi, akibatnya debut girl band Alka diundur. Hal tersebut membuat Alka kecewa, namun itu tak seberapa dibandingkan betapa marahnya Arinda dan Nindya. Arinda sebagai orang yang bertanggungjawab dalam team kreatif harus mengatr ulang pekerjaannya. Dan Nindya beserta personil girl band lainnya harus menunggu lebih lama dan pastinya merasa malu, karena Nindya seorang Aktris YB Entertainment gagal debut dengan girl band terbarunya.
Pada saat itu Putri merasa semua orang menghujat dirinya, bahwa semua kesalahan ada pada Putri. Karena Putrilah yang bertanggungjawab dalam hal desain. Sekertarisnya hanya bawahan jadi semua harus ditanggung oleh Putri. Putri juga merasa sangat malu dan marah, karena setelah kejadian tersebut kartini menghilang entah kemana. Setelah kejadian itu, Putri memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memilih menganggur dirumah. Putri merasa bersalah dan tidak berani untuk menemui Alka.
Hengkangnya Putri dari YG Entertainment mulai membuat Arinda sadar bahwa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Arinda merasa persaingan untuk mendapatkan Alka tidak pantas jika hanya Arinda dan Nindya saja. Arinda sadar bahwa tanpa sahabatnya itu Alka bukanlah bintang yang harus diraih. Arinda memutuskan untuk pergi mencari kartini, agar kartini mau kembali menjadi sahabat karibnya. Dan pastinya untuk meminta maaf pada Putri atas kesalahan yang Kartini perbuat. Arinda berusaha mencari kerumah Kartini namun tidak ada siapapun selain satpam beserta anjing penjaga rumah Kartini. Arinda juga mencari di tempat saudara Kartini, di rumah teman-teman Kartini. Namun tidak ada informasi sedikitpun tentang Kartini. Arinda kehabisan akal, Arinda memutuskan untuk pulang ke rumah Nindya dan menemui Putri, Arinda meminta maaf kepada putri karena sudah sangat keterlaluan pada Putri. Arinda juga menceritakan bahwa Arinda sudah mencari Kartini kemana-mana, tapi Kartini belum juga ditemukan. “Putri, aku minta maaf. Aku sangat bersalah, seharusnya aku tidak seperti ini terhadapmu. Sahabat macam apa aku ini? Seharusnya aku selalu mendukung kamu apapun yang terjadi. Bukan malah pergi dan membuatmu terluka. Maafkan aku putri?” Arinda menangis dan memeluk Putri dengan erat. “Aku tahu kita berempat sahabat sejati, apapun yang kalian lakukan pasti sudah aku maafkan. Dan aku yakin semua yang kamu perbuat itu demi kebaikanku. Mafkan aku juga Arinda”
Arinda dan Putri kembali menjalani hidup mereka seperti sebelumnya, kini Putri bekerja di sebuah butik yang lumayan terkenal. Putri mendesain semua pakaian yang akan dijual di butik itu. Arinda tetap bekerja di YB Entertainment, sedangkan Nindya sangat sibuk dengan girl band barunya. Tidak jarang Nindya pergi bersama dengan Alka sebagai manager girl band. Kebaikan Alka membuat rasa suka Nindya semakin besar, Nindya lupa dengan rumah dan sahabatnya. Dia sangat senang karena bisa dekat dengan Alka dan mengalahkan sahabat-sahabatnya.
Suatu ketika, Nindya Pergi bersama Alka untuk bertemu dengan pengusaha yang akan bekerja sama dengan girl band barunya. Disebuah cafe bintang tujuh, Alka dan Nindya duduk berdua menunggu sang pengusaha datang. "ding,,,, dig,,, ding,,,terdengar nada ringtone handphone milik Alka, Alka segera mengambil HP miliknya di dalam saku celana. Tak sengaja Alka menjatuhkan dompetnya dan isinyapun berserakan di bawah meja. Nindya berusaha untuk menolong Alka dengan mengambil dompet Alka yang jatuh dan merapikan isinya. Sementara Alka sibuk berbicara di telepon, tanpa sengaja Nindya melihat Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Alka. Alangkah terkejutnya ketika Nindya membaca sebuah tulisan yang mengartikan bahwa Alka tidak boleh dimiliki wanita lain selain kekasih Alka. Nindya merasa dunia berguncang sangat dasyat, hatinya teriris-iris hingga air mata tak bisa terbendung lagi. Laksana air bah, air mata Nindya mengalir begitu deras. “Apa ini? Apa yang telah aku perbuat? Bagaimana keadaan sahabatku? Betapa bodoh diriku tuhan? Aku harus bagaimana sekarang?” suara hati Nindya yang tercekat tak mau keluar dari mulutnya.
Alka yang baru menutup pembicaraan melalui telepon, ikut terkejut, “Ada apa Nindya? Apa kamu sakit? Apa yang terjadi?” Alka berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Nindya bersuara “Apa benar kamu sudah menikah?”. Alka menjawabnya “Iya, aku sudah menikah dan memiliki dua orang anak, aku kira kamu sudah tahu sejak lama.” Nindya pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu, Nindya berlari mengikuti langkah kakinya yang tujuannya entah kemana. Hingga akhirnya Nindya berhenti di suatu tempat, tempat yang tidak asing untuk dirinya, tempat dimana keceriaan selalu menghampiri hidupnya. Dimana lagi, inilah tempat Nindya dan ketiga sahabatnya selalu bersama, rumah Nindya yang sekian lama membuatnya merasa di surga. “tok,, tok,, tok,,” Nindya mengetuk pintu rumahnya. Arinda yang membuka pintu terkejut, karena Nindya pulang ke rumah dengan mata sembab dan berantakan. Arinda mempersilahkan masuk.
Kemudian Nindya, Putri, dan Arinda duduk bersama di ruang keluarga. Nindya menceritakan semua yang dialaminya, perasaannya, dan meminta maaf atas segala kesalahannya yang meninggalkan sahabat demi seorang pria. Nindya dan Arinda terkejut dengan cerita yang mereka dengar, tapi itu tidak penting. Yang penting adalah mereka bertiga bermaafan, dan mengahabiskan malam dengan menceritakan perasaan mereka. Sayang sekali Kartini tidak ada disana, keberadaan Kartini belum diketahui oleh siapapun. Keesokan harinya Nindya, Arinda, dan Putri memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat kerja masing-masing. Mereka bertiga memutuskan untuk berwirausaha dengan membuka sebuah cafe di kotanya. Membuka cafe memang cita-cita mereka semenjak SMA, namun cafe tersebut belum lengkap tanpa Kartini.
Setelah beberapa bulan, ternyata cafe mereka benar-benar sukses. Saat cafe sedang ramai pembeli, seorang wanita berjilbab datang mengunjungi cafe tersebut. Putri yang pertama kali melihat, langsung mengetahuinya, bahwa wanita itu adalah sekertaris sekaligus sahabatnya. “Kartini?” Putri berusaha memanggilnya, wanita itu menoleh. Memang benar kalau wanita itu adalah Kartini. Malam harinya di kamar Nindya, terdengar suara brisik dengan tawa yang menggelegar. Ternyata empat sahabat tengah memulihkan persahabatan mereka yang sempat retak. Sejak kejadian yang membuat persahabatan mereka retak mereka memutuskan untuk lebih berhati-hati saat mencari pasangan hidup. Atau mungkin Phobia KTP masih mengkontaminasi pikiran Nindya dan sahabatnya itu. Entahlah, mungkin dunia itu indah saat kita sendiri.

Komentar